Pemerintah Spanyol resmi meluncurkan Virtual Correctional System (VCS) pada Juni 2024, menghukum narapidana melalui avatar di metaverse. Kementerian Kehakiman Spanyol memaksa 320 narapidana kasus non-kekerasan mengenakan headset VR dengan sensor emosi di rumah tahanan. “Avatar akan merasakan penderitaan psikologis setara hukuman fisik,” tegas Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska.

Sensor Emosi Pantau Respon Psikis

Sistem NeuroGuard AI pindai aktivitas otak dan detak jantung narapidana via headset. Jika avatar di metaverse mencoba kabur atau melanggar aturan, AI langsung kirim stimulus nyeri virtual ke sensor di lengan. Contohnya, narapidana pencuri harus bersihkan jalan virtual selama 8 jam/hari sementara sensor ukur tingkat stres melalui keringat buatan.

Rehabilitasi via Simulasi Realitas

Petugas penjara atur program MetaRehab seperti terapi kelompok di pulau virtual dan pelatihan kerja di supermarket digital. Narapidana kasus narkoba wajah ikuti simulasi “efek overdosis” yang picu mual melalui gelombang infrasound. “Mereka belajar konsekuensi tanpa risiko nyata,” papar Direktur Penjara Barcelona, Carlos Mendez.

Kritik dan Risiko Teknologi

Kelompok HAM Libertad Digital kecam sistem ini sebagai “pengurangan hak manusiawi”. Sebanyak 45% narapidana laporkan sakit kepala kronis akibat paparan VR lebih dari 5 jam/hari. Masalah teknis seperti bug sensor juga picu hukuman tak wajar—seperti kasus tahanan yang “dihukum” 72 jam nonstop karena sistem salah deteksi emosi marah.

Ekspansi dan Kontroversi Global

Spanyol rencanakan bangun 10 penjara AI baru pada 2025 untuk kurangi kepadatan penjara fisik 30%. Namun, Uni Eropa desak audit ketat atas privasi data neural narapidana. Startup TechCorrections AS tawarkan layanan serupa dengan harga €50.000/tahanan/tahun, tapi ditolak aktivis karena dianggap komersialisasi hukuman.