Inflasi Amerika Serikat Masih Tinggi, Bitcoin Berpotensi Melemah

Oasar aset kripto hingga saat ini masih kurang bergairah dikarenakan angka inflasi yang masih tinggi. Ditambah lagi dengan adanya kemungkinan rencana The Fed yang akan menaikkan suku bunga cuan senilai 0.75 sampai 1 bps, hal ini membuat pasar diharapkan masih dapat sideways ke depan.

Sepanjang tahun 2022, The Fed sampai saat ini telah menaikkan suku bunga sebanyak 5 kali berturut. Tiga diantaranya naik sebesar 75 bps. Oleh karena itulah para investor perlu untuk melakukan persiapan dalam menghadapi kenaikan suku bunga yang besar di bulan November mendatang.

Chied Marketing Offrice PINTU, Tumothius Martin mengatakan bahwa kondiri ini dapat membuat Bitcoin dan asep kripto lain masih kesulitan untuk dapat bergerak menguat.

“Bitcoin telah beberapa kali bergerak ke level resistance pada garis tren multi-week di mana area USD 20.000 atau sekitar Rp 309,4 juta menjadi level resistance psikologis bagi Bitcoin saat ini,” Ucap Timothius di dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/10/2022).

Pasca rilis data CPI, Bitcoin dan aset besar kripto lain mendapatkan koreksi. Di satu titik, BTC sampai sempat turun ke area 18,160, namun akhirnya kembali pada area 19,500.

Untuk dapat mengetahui apakan BTS dapat menembus titik resistance pada angka 20.000, membutuhkan waktu menunggu, hal ini karena sampai saat ini BTC masih bergerak sideways.

“Selain itu, level psikologis 20.000 selama ini juga menjadi area yang kuat untuk pergerakan sideways BTC. Pada hari Sabtu, Bitcoin juga sempat bergerak menuju level resistance di garis tren multi-week. Saat ini, 17.500 dan 16.000 menjadi level support untuk Bitcoin,” jelas Timothius.

Saat ini kondisi pasar dalam keadaan bearish, dan lebih banyak lagi investor yang menjual pada posisi merugi. Ini yang dapat menjadi penanda bahwa pasar tengah dalam keadaan market bottom. Selain itu pergerakan holders jangka panjang pun lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata, di mana holders akan memiliki motif dalam menahan aset yang tengah mereka investasikan.

“Bagi investor tengah sedang berada pada fase kapitulasi di mana mereka saat ini menghadapi kerugian yang belum direalisasikan. Dapat dilihat bahwa, berkurangnya motif untuk merealisasikan kerugian yang berujung pada berkurangnya tekanan jual,” ujar Timothius.

Continue Reading

Hadapi Resesi 2023, Berikut Cara Mengatur Dana Agar Tetap Tenang

Perencana keuangan saat ini sedang gencar dalam merekomendasikan masyarakat untuk membentuk atau meningkatkan lagi pos dana darurat. Hal ini seiring dengan kondisi perekonomian global yang makin tak menentu, termasuk juga dengan adanya ancaman resesi 2023.

Sama seperti namanya, dana darurat adalah sebuah simpanan uang yang di siapkan untuk kondisi darurat. Pos dana ini bisa jadi alternatif kalau sewaktu – waktu seseorang kehilangan sumber pendapatannya.

Adapun dalam pembentukan dan penyimpanannya, masyarakat juga perlu memperhatikan sejumlah aspek. Misalnya seperti besaran dana yang perlu di simpan, porsi pembagian pendapatan, sampai dengan penempatan dana darurat. Lalu, bagaimana sih cara mengatur dana tersebut? yuk coba simak di bawah.

1.Besaran Dana

Besaran dana darurat yang perl di simpan bisa di sesuaikan dengan jumlah tanggungan yang individu miliki. Untuk masyarakat yang masih lajang, menikah, atau sudah punya anak perlu menyiapkan dana darurat dengan besaran yang berbeda.

Untuk kalian yang masih lajang, kebutuhan dana darurat minimal di 3 – 4 kali dari pengeluaran bulanan. Jika sudah menikah, maka kebutuhan dana darurat minimal 6 kali dari pengeluaran bulanan. Dan jika sudah menikah serta punya anak, maka kebutuhan dana darurat kalian adalah minimal 12 kali dari pengeluaran bulanan.

Setelah menghitung dana darurat yang perlu di kumpulkan, kalian juga perlu memahami kondisi keuangan terkini. Pemahaman tersebut meliputi berapa jumlah pendapatan, pengeluaran, serta profil risiko individu setiap bulannya.

2.Pembagian Pendapatan Untuk Dana Darurat

Dalam pembentukan dana darurat yang baik, butuh pembagian pendapatan yang proporsional dan tak menekan kondisi keuangan individu. Pengeluaran untuk biaya hidup juga harus tetap jadi prioritas. Namun besaran uang untuk dana darurat juga harus di perhatikan.

Kalian bisa membagi pendapatan bulanan dengan presentase 50 persen untuk biaya hidup, meliputi kebutuhan pangan, sandang, papan, cicilan, hingga asuransi. Lalu 30 persen bisa di alokasikan untuk keinginan seperti rekreasi, liburan, biaya streaming, dll. 20 persen untuk tabungan dana darurat, investasi, ataupun dana pensiun.

Menghadapi ancaman resesi global yang makin nyata, kalian bisa mengurangi porsi pengeluaran keinginan menjadi 15 persen. Sehingga alokasi untuk tabungan dana darurat, investasi, maupun dana pensiun bisa meningkat jadi 35 persen. Hal ini di lakukan untuk mempercepat proses pembentukan dana darurat.

3.Penempatan Dana Darurat

Dalam menyiapkan dana darurat, kalian tak harus menempatkan semua dananya ke tabungan. Karena, nilai dana yang di letakkan di tabungan malah berpotensi tergerus oleh kenaikan harga komoditas atau inflasi.

Instrumen investasi bisa kalian manfaatkan sebagai tempat penyimpanan dana darurat. Dengan begitu, potensi keuntungan masih bisa kalian dapatkan. Tetapi, tak semua instrumen investasi bisa di pakai sebagai pos dana darurat. Ada beberapa kriteria yang perlu kalian penuhi supaya instrumen investasi bisa menjadi dana darurat.

Ada 3 kriteria utama instrumen investasi yang bisa di gunakan untuk dana darurat, yaitu likuid, mudah di akses, dan aman. Untuk likuid, artinya kalian harus pilih aset yang bisa dengan mudah di konversi jadi uang tunai dalam waktu yang relatif singkat.

Kemudian, instrumen investasi yang dapat dipilih untuk dana darurat juga harus aman. Artinya, nilai dari dana yang ditempatkan tidak bergerak sangat volatil atau mudah berubah – ubah.

Itulah beberapa tips mengatur keuangan untuk menghadapi resesi nanti. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

Analis Sebut Harga Bitcoin Berpotensi Terjun Bebas ke Harga Rp 154,5 Juta

Harga Bitcoin saat ini di pasar terus menurun setelah aksi dari jual saha di pasa Amreka Serikat (AS) pada pekan lalu. Ternyata hal ini membuat pasar cryptocurrency dengan menggila dan mendorong cryptocurrency anjlok sekitar 10%.

Melansir dari CBNC International, Bitcoin turun hampir 5% menjadi US$32.896,25 (atau setara Rp479 juta) sekitar pukul 7 pagi ET atau waktu bagian timur, menurut dari data Coindesk. Saat ini sendiri Bitcoin adalah mata uang digital terbesar di dunia jika berdasarkan nilai pasar.

Saat ini Bitcoin diperdagangkan di level terendah sejak terakhir di Januari 2022. Mata uang virtual sudah diperdagangkan pada kisaran sempir di tahun ini karena tengah mencoba untuk kembali merebut kembali level tertinggi di akhir tahun 2021.

Bitcoin saat ini sudah turun lebih dari 50% dari harga puncaknya US$32.896,25 (atau setara Rp479 juta). Penurunan terjadi setelah blue-chip Dow Jones Industrial Avearge telah kehilangan lebih dari 1.000 poin dan Nasdaq telah anjlok 5% pada Kamis lalu. Kerugian ini menjadi penanda penurunan dari satu hari terburuk sejak 2020. Dow dan Nasdaq jatuh kembali di Jumat.

Sementara itu, di Federal Reserve (The Fed) di hari Rabu menaikkan suku bunga acuan setengah poin persetasenya sebagai tanggapan kepada tekanan inflasi.

Pasar saham dari rally setelah ketua Fed Jerome Powell mengatakan kenaikan suku bunga yang lebih besar dibandingkan dari 75 basis poin yang tidak dipertimbangkan. Di hari Kamis, investor telah menghapus kenaikan reli Fed.

“Secara keseluruhan pasar tetap di bawah tekanan dari inflasi dan kekhawatiran pertumbuhan,” kata Vijay Ayyar, wakil presiden pengembangan perusahaan dan juga internasional di pertukaran crypto Luno.

Dia mengatakan bahwa jika bitcoin turun di bawah US$30.000, bahkan dapat lebih turun lebih jauh ke US$25.000 sebelum terdapat pergerakan yang jelas kembali.

Kapitalisasi pasar global untuk cryptocurrency terdapat berada pada US$1,68 triliun pada Minggu, menurut data dari CoinGecko.com. Untuk volume perdagangan dari cryptocurrency pada hari terakhir adalah US$119 miliar.

Akibat penurunan ini, investor Crypto juga gelisah selama akhir pekan setelah hilangnya pasak dolar dari stable coin TerraUSD.

Continue Reading